Senin, 23 Agustus 2010

Sesuai Rencana

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.47
Reaksi: 
-mengenang percakapan banyak mata

Aku sudah memakai pakaian pengantin, Pah. Baru ada satu set kursi tamu yang katanya untuk alas ketika aku lelah saat pernikahan nanti. Kita harus melakukan sesuatu. Bertanya dimana banyak set untuk makan, duduk, juga seperangkat alat musik. Lalu kemana 500 tamu yang kau undang? Seperti biasa, terus saja kau lantunkan ayat omong kosong. Dan terus saja kau bisikkan ketenangan dari bathinmu, berulang-ulang. Sudahlah. Biar aku bergerak sendiri. Dari kanan kemudian kiri kemudian kembali kanan, terus saja aku menengok bolak-balik, gelisah, lenggak-lenggok. Kupastikan semua rapih, mahar telah tersedia, duduk manis di kamar pengantin. Seperangkat alat untuk sembahyang -aku lupa apa namanya, mukena? atau salibkah? atau mungkin dupa? juga tentu sudah berjejer rapih dibelakang mahar. Aku tahu aku pasti akan menangis hari ini, ketika ijab dan qabul menjadi tontonan. Ternyata capek ya menjadi pengantin, padahal baru calon. Duduklah aku kemudian. Menyandarkan kepala ke tepi kursi. Kulihat sekitar, mengapa mereka melihatku seperti itu? Aneh. Aih, aku baru ingat, ternyata aku hanya pengantin tunggal. Akhirnya kunikmati hari ini dengan air mata, sesuai rencana.



Bandung 2010

0 komentar on "Sesuai Rencana"

Posting Komentar

Sesuai Rencana

Senin, 23 Agustus 2010 06.47 by Tirena Oktaviani
-mengenang percakapan banyak mata

Aku sudah memakai pakaian pengantin, Pah. Baru ada satu set kursi tamu yang katanya untuk alas ketika aku lelah saat pernikahan nanti. Kita harus melakukan sesuatu. Bertanya dimana banyak set untuk makan, duduk, juga seperangkat alat musik. Lalu kemana 500 tamu yang kau undang? Seperti biasa, terus saja kau lantunkan ayat omong kosong. Dan terus saja kau bisikkan ketenangan dari bathinmu, berulang-ulang. Sudahlah. Biar aku bergerak sendiri. Dari kanan kemudian kiri kemudian kembali kanan, terus saja aku menengok bolak-balik, gelisah, lenggak-lenggok. Kupastikan semua rapih, mahar telah tersedia, duduk manis di kamar pengantin. Seperangkat alat untuk sembahyang -aku lupa apa namanya, mukena? atau salibkah? atau mungkin dupa? juga tentu sudah berjejer rapih dibelakang mahar. Aku tahu aku pasti akan menangis hari ini, ketika ijab dan qabul menjadi tontonan. Ternyata capek ya menjadi pengantin, padahal baru calon. Duduklah aku kemudian. Menyandarkan kepala ke tepi kursi. Kulihat sekitar, mengapa mereka melihatku seperti itu? Aneh. Aih, aku baru ingat, ternyata aku hanya pengantin tunggal. Akhirnya kunikmati hari ini dengan air mata, sesuai rencana.



Bandung 2010

0 Response to "Sesuai Rencana"

Posting Komentar

 

catatan kecil liku lika Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal