Senin, 21 Desember 2009

Anak Koala yang Mungil

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 03.02
Reaksi: 
0 komentar

kusebut kau anak koala yang mungil

masih aku tasbihkan namamu ditiap pijakku,

masih aku dzikirkan namamu dibalik doaku,

bersamaan dengan nafasku

rantai kataku



kubiarkan kau terbang tinggi


2009

Anting

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.57
Reaksi: 
0 komentar

mengapa tasbih itu terus mengiang

serta antingmu yang tersingkap

waktu aku layangkan jemari ke lebatmu



15 September 2009

Saat yang Aku Tunggu

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.55
Reaksi: 
0 komentar

orange kusut,

bohlam mengayu,

pipa putih tegak

beriringan dengan genting

:saat batu bersedia dipijak

dan kerikil mampu terpadu.


17 September 2009

Fatamorgana?

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.54
Reaksi: 
0 komentar

Kukira kerikil mampu berpadu

:oleh semen yang akhirnya mengering


engkau memang nyaris tak ada cacat

hingga terlihat fatamorgana untuk aku


18 September 2009

Sama

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.52
Reaksi: 
0 komentar

tak ada yang baru disini

semua tawa beralaskan derita lama

dan semua tangis berawalkan tawa yang melapuk


21 September 2009

Siang Tadi

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.51
Reaksi: 
0 komentar

tadi siang mentari menyengat

melukai langkah yang bolak - balik

mencari tanah terpetak


lambat - lambat mentari bersahabat

memeluk raga, meremas jiwa


28 September 2009

Selalu Untukmu

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.49
Reaksi: 
0 komentar

:Rizal Syayid Nurdin


kukira ulat bulu telah bisa dikau singkap

lalu kita habisi

sesaat sebelum waktu berguling

dan aku mematung dalam tidurku


aku diam ingin sadar

larikan kudaku


1 Oktober 2009

Remuk dan Setetes

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.37
Reaksi: 
0 komentar

dalam riuh

ada remuk tertumpuk

ada setetes sendirian

antar kita

:antara rasa dan sadar dasar


8 Oktober 2009

Ucapmu Tentang Takdir

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.35
Reaksi: 
0 komentar

"kita tak dapat menentang takdir"

ucapmu.

Entah karena iba atau

karena janji kita dahulu

engkau kembangkan layar kita

:setengah saja

siapa yang mampu bertahan

:berdiri dengan 1 kaki

kemudian tornado dan kau

hanya berguru pada takdir sambil mematung


20 Oktober 2009

Pintaku

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.30
Reaksi: 
0 komentar

aku mungkin sibuk

meminta Tuhan pertemukan kembali

:ada setetes haus tertinggal

malam tadi



kita mungkin masih menyisakan angan

dan pintas ingatan

tertempel di kasur dengan tangan pelindung.


Koalaku,

aku berkesah malam ini

pada ketikan lampau yang berantakan


Sajak ini tanpa ulat bulu

yang menyebabkan kau tak mendekat


25 Oktober 2009

Satu dari Sebejuta Harapan

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.27
Reaksi: 
0 komentar

Koalaku,

inginku kau mampu membaca detakku

dambaku culik taman bermainmu

satukan dengan langit

hingga membiaskan pelangi

sampai tak ada lg yg sanggup menggapai

2009

Keinginan Harapan

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.23
Reaksi: 
0 komentar

untukmu

:Rizal Syayid Nurdin

aku mohon pahami aku saat khawatir,

saat berkesah

saat aku merasa suatu keganjilan

dan engkau hanya memaki dengan perbuatan

kemudian marah sambil bersikeras


aku minta kamu

untuk tetap jalan beriringan

:sungguh - sungguh

sambil pegang konsekuensi kamu

sebagai aku dari sisi lain


30 Oktober 2009

Iri

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.19
Reaksi: 
0 komentar

aku tetap disini

ditemani daun yang perlahan pasti berguguran

sambil menatap 3 pasang manusia saling menautkan kasih

sedang aku dibuntuti caci

oleh sebuah pesan teks manusia

yang sedang terbang dan tinggal kacang


1 November 2009

Ulat Bulu Hilang

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.16
Reaksi: 
0 komentar

berkurang kehilanganku

aku harap ini awal dari kebaikan

terima kasih Allah

hari ini ulat bulu sepertinya istirahat

:untuk mendekatinya


semoga ulat bulu bosan

membuat gatal tubuh indah koala


1 November 2009

Seorang yang Aku Tunjuk

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.12
Reaksi: 
0 komentar

: Rizal Syayid Nurdin


aku meniti tangga kecil berundak

mencapai yang aku sebut tujuan

dimana koala selalu kugendong

:ringan, diam, berbayang aku

kemudian membijaki.


sekarang koala berusaha berdiri

2 kaki

kadang meminta gendong

:seperti yang kuharapkan

:butuhkan aku


Aku tetap meniti, tersendat

:berat

:tak seperti saat koala kugendong


Aku menunjuk koala menemani langkah kecil


5 November 2009

Biangnya

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.10
Reaksi: 
0 komentar

:Rizal Syayid Nurdin


suatu petang kala esok

aku ingin menunjuk seorang utusan setan

datang dan rasuki besarku


aku ingin jahat

:seperti yang semua lakukan

aku ingin menyakiti

:seperti semua tak menganggap aku

aku ingin berkata "aku sibuk"

lalu janji takkan kutepati

dan kamu harus memaafkan

lalu aku dapat seenaknya tersenyum.


tapi aku tak sampai hati laiknya itu,

wanitalah biangnya.


Bandung 7 November 2009

Bangun Senyum

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.07
Reaksi: 
0 komentar

dalam gelap aku melihatnya tertidur

di tamu rumah ayah ibuku,


aku harap kau bangun

melihatku sambil tersenyum

bahagia, bukan ini.

Untuk Petang

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.05
Reaksi: 
0 komentar

untukmu petang,

aku baru kali merasa ketakutan

pada petang

:saat lampu mulai dinyalakan

kali jalan sudah ramai

buruh berhambur

pejabat pulang ke kandang.


ah rasanya ingin aku cepat sampai

sebelum malam

sebelum petang berubah gelap.


12 November 2009

Maaf

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 02.00
Reaksi: 
0 komentar

untung aku sempat menyenderkan diri

pada baja kokoh

sehabis aku mendorong kamu


habis jua akalku akanmu


sang hormat meminta setumpuk maaf

:agar aku kembali mengerti akan kamu.



setelah itu hilang asa teremas hati


Bandung, 13 November

Berkaca

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 01.53
Reaksi: 
0 komentar

sayang,

kulihat air menggenang

di matamu

:melukiskan mendung

pada pelataran rasa

di siang yang cerah

juga angin yang menyerobot masuk


14 Desember 2009

Sabtu, 19 Desember 2009

Lagi

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 05.16
Reaksi: 
0 komentar

lagi, lagi aku diwajibkan tak mendapat terik

:lurus atau ke bawah

tanpa diterangi.

Angka 4 menjadi simbol

bahwa aku menahan ludah

:mungkin menelan

sambil kukecup rantai Hatiku,

kubelai agar Itu memahami

yang seharusnya bukan dimengerti.

rasanya mulutku ingin terus menggigit bagian bawah bibir

sampai termakan tak bersisa.


14 November 2009

Beruk atau Buruk?

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 05.13
Reaksi: 
0 komentar

aku tertidur dengan buruk

di atas bentuk merah

merona

mendengung lantunan

membuat mencari kapas bersih


15 November 2009

Kisah Sabtu

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 05.10
Reaksi: 
0 komentar

dalam hujan

aku tak mau berani mengatakan

"aku menanti pelangi"

:seperti yang orang katakan

aku tetap menanti siang

pada hari sabtu

yang dulu cerah.

mungkin sekarang

memang sedang musim hujan

semoga siklus musim tetap berjalan

dan berhenti selamanya

pada musim cerah yang abadi

:tanpa datang musim gugur

atau hujan dan salju yang terasa beku


17 November 2009

Pertempuran Makna

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 05.08
Reaksi: 
0 komentar

aku merasakan ada sesuatu yang salah

pada otakku

menginjak hingga terlontar pukulan

bahkan cubitan kecil

:membuat tangan merasa khawatir


Depan Komputer, 19 November 2009

Harap Indah

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 05.04
Reaksi: 
0 komentar

aku mengintip langit yang masih polos

dari jendela rumahku

kupikir butuh aku tambahkan awan

:secara beraturan

lalu dengan tangan

kugambar garis burung

tak lupa kuhias warna pelangi setelah hujan

aku mengerjakan perlahan hati - hati

:agar langit tak terluka


November 2009

Kecupan Termanis

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 05.00
Reaksi: 
0 komentar

:sadar

aku tercengang melihat hujan

kemudian menunduk,

mengecup tangan mungil

yang mengemudikan aman

dan langit menangis dibuatnya


Bandung, 21 November 2009

Pekikan Terakhir

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 04.55
Reaksi: 
0 komentar

: Rizal Syayid Nurdin

aku butuh tingkat tertinggi

lantai ujung

tempat teriak menjerit padamu

kemudian

kupinta dikau berdiri jauh di bawah

:tempat anjingku menahan kau

hingga tak dapat berpindah

aku pasti akan jatuh

:terlalu semangat memekik

kau bisa menangkap

atau aku tindih dengan diri

dan kita mati bersama


23 November 2009

Kumohon

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 04.49
Reaksi: 
0 komentar

masih siang

:kamu melucuti lampu dudukku

aku sendiri dalam bilik sepetak kotak

ketika hari mulai malam

:aku tak dapat melihat

dan jika aku keluar kamu akan benci

gelap.

cepat bawa lampu dudukku,

simpan dengan cantik

dan kita bisa terlelap bersama


Holis, 24 November 2009

Biarlah Aku

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 03.36
Reaksi: 
0 komentar

tolong biarkan aku

menikmati

memasuki kotak

jangan paksa akan alurku

aku kira cukup aku mematuhi alurmu

: mengambil kuning

sementara aku menawarkan hijau

aku menutup tirai

sedang kamu membiarkan pintu terbuka


Bandung, 28 November 2009

Kamis, 17 Desember 2009

di Bawah Hujan

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 21.37
Reaksi: 
0 komentar

: Rizal Syayid Nurdin  


di depan gerbang

aku melihat Tuan

di bawah hujan malam hari


telah kuberi segelas teh hangat

ketika masuk

aku lupa memberi gula pada teh

sungguh aku ingin segera Tuan rasakan kehangatan

sebelum memulai kembali perjalanan



Holis, 11 Desember 2009

Anak Koala yang Mungil

kusebut kau anak koala yang mungil

masih aku tasbihkan namamu ditiap pijakku,

masih aku dzikirkan namamu dibalik doaku,

bersamaan dengan nafasku

rantai kataku



kubiarkan kau terbang tinggi


2009

Anting

02.57 by Tirena Oktaviani 0 komentar

mengapa tasbih itu terus mengiang

serta antingmu yang tersingkap

waktu aku layangkan jemari ke lebatmu



15 September 2009

Saat yang Aku Tunggu

02.55 by Tirena Oktaviani 0 komentar

orange kusut,

bohlam mengayu,

pipa putih tegak

beriringan dengan genting

:saat batu bersedia dipijak

dan kerikil mampu terpadu.


17 September 2009

Fatamorgana?

02.54 by Tirena Oktaviani 0 komentar

Kukira kerikil mampu berpadu

:oleh semen yang akhirnya mengering


engkau memang nyaris tak ada cacat

hingga terlihat fatamorgana untuk aku


18 September 2009

Sama

02.52 by Tirena Oktaviani 0 komentar

tak ada yang baru disini

semua tawa beralaskan derita lama

dan semua tangis berawalkan tawa yang melapuk


21 September 2009

Siang Tadi

02.51 by Tirena Oktaviani 0 komentar

tadi siang mentari menyengat

melukai langkah yang bolak - balik

mencari tanah terpetak


lambat - lambat mentari bersahabat

memeluk raga, meremas jiwa


28 September 2009

Selalu Untukmu

02.49 by Tirena Oktaviani 0 komentar

:Rizal Syayid Nurdin


kukira ulat bulu telah bisa dikau singkap

lalu kita habisi

sesaat sebelum waktu berguling

dan aku mematung dalam tidurku


aku diam ingin sadar

larikan kudaku


1 Oktober 2009

Remuk dan Setetes

02.37 by Tirena Oktaviani 0 komentar

dalam riuh

ada remuk tertumpuk

ada setetes sendirian

antar kita

:antara rasa dan sadar dasar


8 Oktober 2009

Ucapmu Tentang Takdir

02.35 by Tirena Oktaviani 0 komentar

"kita tak dapat menentang takdir"

ucapmu.

Entah karena iba atau

karena janji kita dahulu

engkau kembangkan layar kita

:setengah saja

siapa yang mampu bertahan

:berdiri dengan 1 kaki

kemudian tornado dan kau

hanya berguru pada takdir sambil mematung


20 Oktober 2009

Pintaku

02.30 by Tirena Oktaviani 0 komentar

aku mungkin sibuk

meminta Tuhan pertemukan kembali

:ada setetes haus tertinggal

malam tadi



kita mungkin masih menyisakan angan

dan pintas ingatan

tertempel di kasur dengan tangan pelindung.


Koalaku,

aku berkesah malam ini

pada ketikan lampau yang berantakan


Sajak ini tanpa ulat bulu

yang menyebabkan kau tak mendekat


25 Oktober 2009

Satu dari Sebejuta Harapan

02.27 by Tirena Oktaviani 0 komentar

Koalaku,

inginku kau mampu membaca detakku

dambaku culik taman bermainmu

satukan dengan langit

hingga membiaskan pelangi

sampai tak ada lg yg sanggup menggapai

2009

Keinginan Harapan

02.23 by Tirena Oktaviani 0 komentar

untukmu

:Rizal Syayid Nurdin

aku mohon pahami aku saat khawatir,

saat berkesah

saat aku merasa suatu keganjilan

dan engkau hanya memaki dengan perbuatan

kemudian marah sambil bersikeras


aku minta kamu

untuk tetap jalan beriringan

:sungguh - sungguh

sambil pegang konsekuensi kamu

sebagai aku dari sisi lain


30 Oktober 2009

Iri

02.19 by Tirena Oktaviani 0 komentar

aku tetap disini

ditemani daun yang perlahan pasti berguguran

sambil menatap 3 pasang manusia saling menautkan kasih

sedang aku dibuntuti caci

oleh sebuah pesan teks manusia

yang sedang terbang dan tinggal kacang


1 November 2009

Ulat Bulu Hilang

02.16 by Tirena Oktaviani 0 komentar

berkurang kehilanganku

aku harap ini awal dari kebaikan

terima kasih Allah

hari ini ulat bulu sepertinya istirahat

:untuk mendekatinya


semoga ulat bulu bosan

membuat gatal tubuh indah koala


1 November 2009

Seorang yang Aku Tunjuk

02.12 by Tirena Oktaviani 0 komentar

: Rizal Syayid Nurdin


aku meniti tangga kecil berundak

mencapai yang aku sebut tujuan

dimana koala selalu kugendong

:ringan, diam, berbayang aku

kemudian membijaki.


sekarang koala berusaha berdiri

2 kaki

kadang meminta gendong

:seperti yang kuharapkan

:butuhkan aku


Aku tetap meniti, tersendat

:berat

:tak seperti saat koala kugendong


Aku menunjuk koala menemani langkah kecil


5 November 2009

Biangnya

02.10 by Tirena Oktaviani 0 komentar

:Rizal Syayid Nurdin


suatu petang kala esok

aku ingin menunjuk seorang utusan setan

datang dan rasuki besarku


aku ingin jahat

:seperti yang semua lakukan

aku ingin menyakiti

:seperti semua tak menganggap aku

aku ingin berkata "aku sibuk"

lalu janji takkan kutepati

dan kamu harus memaafkan

lalu aku dapat seenaknya tersenyum.


tapi aku tak sampai hati laiknya itu,

wanitalah biangnya.


Bandung 7 November 2009

Bangun Senyum

02.07 by Tirena Oktaviani 0 komentar

dalam gelap aku melihatnya tertidur

di tamu rumah ayah ibuku,


aku harap kau bangun

melihatku sambil tersenyum

bahagia, bukan ini.

Untuk Petang

02.05 by Tirena Oktaviani 0 komentar

untukmu petang,

aku baru kali merasa ketakutan

pada petang

:saat lampu mulai dinyalakan

kali jalan sudah ramai

buruh berhambur

pejabat pulang ke kandang.


ah rasanya ingin aku cepat sampai

sebelum malam

sebelum petang berubah gelap.


12 November 2009

Maaf

02.00 by Tirena Oktaviani 0 komentar

untung aku sempat menyenderkan diri

pada baja kokoh

sehabis aku mendorong kamu


habis jua akalku akanmu


sang hormat meminta setumpuk maaf

:agar aku kembali mengerti akan kamu.



setelah itu hilang asa teremas hati


Bandung, 13 November

Berkaca

01.53 by Tirena Oktaviani 0 komentar

sayang,

kulihat air menggenang

di matamu

:melukiskan mendung

pada pelataran rasa

di siang yang cerah

juga angin yang menyerobot masuk


14 Desember 2009

Lagi

lagi, lagi aku diwajibkan tak mendapat terik

:lurus atau ke bawah

tanpa diterangi.

Angka 4 menjadi simbol

bahwa aku menahan ludah

:mungkin menelan

sambil kukecup rantai Hatiku,

kubelai agar Itu memahami

yang seharusnya bukan dimengerti.

rasanya mulutku ingin terus menggigit bagian bawah bibir

sampai termakan tak bersisa.


14 November 2009

Beruk atau Buruk?

05.13 by Tirena Oktaviani 0 komentar

aku tertidur dengan buruk

di atas bentuk merah

merona

mendengung lantunan

membuat mencari kapas bersih


15 November 2009

Kisah Sabtu

05.10 by Tirena Oktaviani 0 komentar

dalam hujan

aku tak mau berani mengatakan

"aku menanti pelangi"

:seperti yang orang katakan

aku tetap menanti siang

pada hari sabtu

yang dulu cerah.

mungkin sekarang

memang sedang musim hujan

semoga siklus musim tetap berjalan

dan berhenti selamanya

pada musim cerah yang abadi

:tanpa datang musim gugur

atau hujan dan salju yang terasa beku


17 November 2009

Pertempuran Makna

05.08 by Tirena Oktaviani 0 komentar

aku merasakan ada sesuatu yang salah

pada otakku

menginjak hingga terlontar pukulan

bahkan cubitan kecil

:membuat tangan merasa khawatir


Depan Komputer, 19 November 2009

Harap Indah

05.04 by Tirena Oktaviani 0 komentar

aku mengintip langit yang masih polos

dari jendela rumahku

kupikir butuh aku tambahkan awan

:secara beraturan

lalu dengan tangan

kugambar garis burung

tak lupa kuhias warna pelangi setelah hujan

aku mengerjakan perlahan hati - hati

:agar langit tak terluka


November 2009

Kecupan Termanis

05.00 by Tirena Oktaviani 0 komentar

:sadar

aku tercengang melihat hujan

kemudian menunduk,

mengecup tangan mungil

yang mengemudikan aman

dan langit menangis dibuatnya


Bandung, 21 November 2009

Pekikan Terakhir

04.55 by Tirena Oktaviani 0 komentar

: Rizal Syayid Nurdin

aku butuh tingkat tertinggi

lantai ujung

tempat teriak menjerit padamu

kemudian

kupinta dikau berdiri jauh di bawah

:tempat anjingku menahan kau

hingga tak dapat berpindah

aku pasti akan jatuh

:terlalu semangat memekik

kau bisa menangkap

atau aku tindih dengan diri

dan kita mati bersama


23 November 2009

Kumohon

04.49 by Tirena Oktaviani 0 komentar

masih siang

:kamu melucuti lampu dudukku

aku sendiri dalam bilik sepetak kotak

ketika hari mulai malam

:aku tak dapat melihat

dan jika aku keluar kamu akan benci

gelap.

cepat bawa lampu dudukku,

simpan dengan cantik

dan kita bisa terlelap bersama


Holis, 24 November 2009

Biarlah Aku

03.36 by Tirena Oktaviani 0 komentar

tolong biarkan aku

menikmati

memasuki kotak

jangan paksa akan alurku

aku kira cukup aku mematuhi alurmu

: mengambil kuning

sementara aku menawarkan hijau

aku menutup tirai

sedang kamu membiarkan pintu terbuka


Bandung, 28 November 2009

di Bawah Hujan

: Rizal Syayid Nurdin  


di depan gerbang

aku melihat Tuan

di bawah hujan malam hari


telah kuberi segelas teh hangat

ketika masuk

aku lupa memberi gula pada teh

sungguh aku ingin segera Tuan rasakan kehangatan

sebelum memulai kembali perjalanan



Holis, 11 Desember 2009

 

catatan kecil liku lika Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal