Senin, 23 Agustus 2010

Setelah Mati

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 08.45
Reaksi: 
0 komentar
tolong,
biarkan aku menangis, menjerit

tolong,
biarkan aku menarik, menghela

tapi tolong,
jangan biarkan aku bernafas, kembali setelah mati.


Holis, 23 Agustus 2010

Catatan Perjalanan

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.51
Reaksi: 
0 komentar

"Tidur cantik". Tengah malam kuterima pesan darimu. Sesuai perkiraan, kau selalu tahu aku masih belum terlelap. Ini yang aku suka dari malam. Segelas coklat dingin, tugas, layar komputer dan pesan teks darimu. Lengkap sudah. Aku merasa sedang mencicipi bagian dari surga. Mungkin saat itu jiwaku sedang menari mengikuti irama musik klasik. Satu jarum pendek jam di dinding ruang keluarga hampir menunjuk angka satu, sedang jarum yang lain berada di angka sebelas. Pukul satu kurang lima menit, nampaknya kau sudah tertidur. Ponselpun sudah tak lagi berkicau. Ya, kau pasti tengah terlelap. Dan aku masih ingin terjaga, membiarkan bintang, bulan dan semesta meniupkan mimpi dan kehidupan yang indah dalam tidurmu. Terus saja kukerjakan tugas dengan rasa khawatir bahwa aku akan melewatkan waktu subuh kemudian terlambat ke kampus. Kalau sudah begitu, untuk apa aku semalaman mengerjakan tugas? Kuputuskan mengirimi satu pesan teks padamu, meminta untuk membangunkanku pagi-pagi. Tiga per-empat malam tugas selesai dan aku dapat tertidur, akhirnya.


Pagi-pagi telepon darimu berdering. Tunggu sebentar, kuangkat panggilan dengan mata masih terpejam, setelah itu kembali terlelap. Sepertinya gerimis baru saja reda. Redup matahari membuat mata tak kunjung membuka. Ibu berteriak, membangunkanku. Pukul berapa ini? Pelan-pelan kupaksakan mata melihat jam berbentuk tokoh kartun kesayanganku di sisi ranjang. Ah sial, pukul delapan. Seharusnya pukul sembilan aku sudah berada di kampus, duduk pait mempersiapkan sebuah presentasi di hadapan teman-teman. Itu artinya aku akan terlambat sampai kampus dan usaha mengerjakan tugas malam tadi terancam tidak mempunyai arti. Bergegaslah aku mandi, aku berbenah. Terburu-buru pergi ke luar rumah. Benar saja gerimis baru reda, embun-embun berserakan di pekarangan. Dingin pagi semakin membuatku kehilangan rasa optimis akan sampai kampus pada waktu yang tepat. Dengan mengucap basmallah aku berangkat kemudian tiba lima belas menit lewat dari pukul sembilan. Untung saja dosen belum datang. Seperti biasa kata basmallah selalu diakhiri dengan hamdallah.


Kira-kira pukul sebelas kelas presentasi selesai. Ah, tak sabar aku bertemu denganmu. Rindunya... Ya, hari ini memang aku ingin ditemani olehmu walau sebentar hanya setetes waktu, tak apa. Melihatmu dari kejauhan saja -seperti biasa, sebenarnya rasa rinduku bisa hilang. Tapi aku ingin menghilangkan rasa rindu kemudian memunculkannya kembali, jadi kuputuskan untuk bertemu, bersamamu. Keluar kelas, lagi-lagi kukirim sebuah teks dalam pesan. Aku sudah selesai dengan urusanku dan siap bertemu. Kupastikan kau mencerna, memahami, kemudian mengembalikan katakata kepadaku. Ternyata kau belum selesai dengan urusanmu. Aku menunggumu di ruang waktu puisi, tak pernah tahu batas dan tak mengenal waktu. Angin memang sangat kencang saat itu, tapi tidak juga dapat menerbangkan segala penantian yang ada di otak. Angin begitu lembut membelai tubuh sambil menemani.


Hampir pukul satu siang kulihat dari petunjuk waktu ponselku. Kau datang berwajah malu-malu, senyum berkali-kali. Terlihat ada kebahagiaan disana, hatimu. Tapi kubiarkan saja duduk terlebih dahulu, terdiam. Mungkin masih ingin meneruskan menikmati letupan kebahagiaan yang belum meledak. Tak lama bibir yang anggur itu berkisah tentang cerita bahagia, sebuah awal dari salah satu mimpi utama. Aku memang bukan perenang ulung, tapi nampaknya kali ini aku berhasil menyelam di bahagiamu. Kau dan aku berjalan beriringan menuju kantin sambil menyisipkan kenangan sepanjang jalan. Di kantin, kembali aku mendengarkan segala cerita bahagia, rintih dan gurauan. Dan aku mengirimkan napas untukmu. Kau akan tetap bernapas, terjaga dengan hasrat tanpa waktu yang membeku.


Pukul dua lebih tiga puluh menit. Ibu mengirim pesan, aku harus cepat pulang. Istri dari adik Ibuku meminta aku untuk menemani sisa hari itu. Ah! Waktu kita telah habis. Sebenarnya aku masih ingin berada disana, bersamamu, di dekatmu, menemani, tak mau pergi seperti malam yang datang kemudian pergi setiap hari. Aku pamit, memberi kucupan di tanganmu kemudian berjalan, masuk mobil, dan berlalu hingga hilang gema di telingamu. Kususuri lorong jalan yang terasa jauh. Seperti langkahmu, menjauh. Ternyata benar, rinduku hilang tadi, tapi kau langsung menanam kembali rindu di akar hatiku. Melebur dengan darah tubuh, mengalir ke setiap organ. Aku sadar, begitu kupulang, ada yang hilang.



Kamar, 2010

Sadar

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.51
Reaksi: 
0 komentar
dari sini aku melihat
ternyata
hujan
semakin
lebat


Holis, 2010

Aku Hari Ini

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.50
Reaksi: 
0 komentar
bisakah kau katakan padanya
bahwa
aku takkan pernah kau ambil

buat ia membuang semua rasa kalut
dan ketakutan pada kehilangan

katakan pula padanya
jika
kau memang begitu ingin aku menjadi teman

katakan

jika kau tak bisa mengatakannya
katakan saja yang sejujurnya
tentang kau dan aku
tentang yang kau perjuangkan sebentar ini.


2010

Akhir Kesabaran Sang Suami

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.49
Reaksi: 
0 komentar
:masih tentang malam, tentang kelam, tentang yang terbenam


"Tak apa, kau tak ada di siang ini,"

Suamiku tersenyum. Membukakan pintu kemudian
merangkulku. Aku segera meletakkan tas, pergi
ke kamar. Beriringan.

Aku mulai melepaskan pakaianku, pakaian dalamku.
Suamiku tersenyum. Dipeluknya aku dengan hangat,
seperti akar merekatkan diri kepada tanah.

"Tak apa, kau tak ada di siang ini,"

Suamiku masih menumpuk kata di bawah bantal,
sementara aku membentuk awan di kasur, berantakan.
Suamiku tersenyum. Memakaikan pakaianku kembali, kemudian pergi.


27 Juli 2010

Sesuai Rencana

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.47
Reaksi: 
0 komentar
-mengenang percakapan banyak mata

Aku sudah memakai pakaian pengantin, Pah. Baru ada satu set kursi tamu yang katanya untuk alas ketika aku lelah saat pernikahan nanti. Kita harus melakukan sesuatu. Bertanya dimana banyak set untuk makan, duduk, juga seperangkat alat musik. Lalu kemana 500 tamu yang kau undang? Seperti biasa, terus saja kau lantunkan ayat omong kosong. Dan terus saja kau bisikkan ketenangan dari bathinmu, berulang-ulang. Sudahlah. Biar aku bergerak sendiri. Dari kanan kemudian kiri kemudian kembali kanan, terus saja aku menengok bolak-balik, gelisah, lenggak-lenggok. Kupastikan semua rapih, mahar telah tersedia, duduk manis di kamar pengantin. Seperangkat alat untuk sembahyang -aku lupa apa namanya, mukena? atau salibkah? atau mungkin dupa? juga tentu sudah berjejer rapih dibelakang mahar. Aku tahu aku pasti akan menangis hari ini, ketika ijab dan qabul menjadi tontonan. Ternyata capek ya menjadi pengantin, padahal baru calon. Duduklah aku kemudian. Menyandarkan kepala ke tepi kursi. Kulihat sekitar, mengapa mereka melihatku seperti itu? Aneh. Aih, aku baru ingat, ternyata aku hanya pengantin tunggal. Akhirnya kunikmati hari ini dengan air mata, sesuai rencana.



Bandung 2010

Kutemukan Tanahmu di Malam Hari

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.45
Reaksi: 
0 komentar
:lagi dan lagi untuk Angga sebagai bingkisan hujan kepada tanah

di malam hari,
aku tak melihat yang lain
kecuali jenis tanahmu

bulan mulai memantulkan cahaya
yang tak pernah berhenti
coba membiarkanku diam di waktu malamnya

rumahrumah menjadi saksi
saat pagi berganti siang
kemudian menjadi sore

sebelum kau berdiri di tempat persembunyianku
kepada siapa aku bisa mengajak untuk melihatmu
sedang para penjaga sibuk duduk diam di pinggir malam

aku begitu tahu kau pasti ada
menulis namaku
membantu kakiku
melangkah
dan menyiapkan satu nafas lagi

aku tahu
malam itu
aku tak melihat yang lain
kecuali jenis tanahmu

dan aku tahu
aku tak melihat yang lain
kecuali wajah bulanmu
yang terkadang tertutup embun
di malam hari


Juli 2010

Menjelang Sore Aku Mengintipmu

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.44
Reaksi: 
0 komentar

:Fathur Rahman


Aku telah beranjak setelah hujan berhenti

setelah tugas konyol yang belum selesai kuberikan

setelah tersampaikan sebuah pelajaran untuk sang ketua

dan tentu setelah kau datang siang hari

Kau datang di siang hari

membawa buku puisi yang kau pinjam

setelah selesai 3 hal penting : duduk

melihat

berdoa

Kau datang di siang hari

tepat saat penghuni perut menggerogot dinding lambung

dan (lagi-lagi) tepat waktu sedang tak berkawan

Di kantin itu

kau dan aku duduk berhadap-hadapan

mulai menceritakan segala jalan yang dilewati

(saat itu) kupikir kau teman yang dititipi satu napas

Kau lihat jalan kesedihanku

seperti pelangi begitu indah. Dan aku

berlari di atasnya. Coba saja kau mulai telisik

caraku melangkahkan kaki. Gestur saat mulai berlari, lalu

suara bergema di langit. Bernyanyilah aku ketika

masa lalu memainkan tarian surga, dan aku

mulai menikmati manisnya dosa-dosa

Kau terdiam, diam yang tak kosong

sampai terunut jalan indahmu

bersama puteri berkerudung putih

Kau datang di siang hari

menjelang sore aku mengintipmu

Bandung, 2010

Dan Aku Memintal Tanya

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.39
Reaksi: 
0 komentar
Gerhana bulan kehilangan penonton. Gelap malam pun merayakan kemenangannya.
Disimpannya langit yang semakin menghitam. Dan awan mulai berarak menutupi
matahari. Lalu kemana perginya cahaya? Dibiarkannya gelap bersorak-sorai.

Aku mulai membuka pintu dengan luka, membiarkan masuk ia yang sejak pagi berdiri.
Masa lalu, Setiabudi, dan air mata menimbun di tubuhku. Mereka melumat tubuh,
menari-nari sendiri. Seorang lelaki masuk. "Beri aku sebuah kepercayaan,
maka takkan lagi ada permainan konyol seperti kemarin". Percakapan
menjadi bara di atas meja. Kukunyah api. Ia keluarkan air.

Dititipkan hati pada sebuah benda. "Ini bukan apa-apa, semoga
kau mulai dapat menyambung cerita, merangkainya di lubang hati, kemudian
kau tanam menjadi bagian tubuhmu". Aku mulai memintal takut dan resah. Memasukkan
ke lubang otak. Kututup pintu. Dan akhirnya kau lumuri tempat tidurku dengan kata-katamu.

-Buat Angga Nurfauza Rachviana


Bandung, 4 Juli 2010

Pulanglah

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.38
Reaksi: 
0 komentar
:untuk kawan perjalanan yang lagilagi sesaat

Pulanglah kekasih.
Kataku ketika kau lihat aku mulai merah bernanah
Dan takut pada hal yang orang sebut mati

Sendu tak mampu merobek keputusan
Pulanglah kekasih.
Bahkan jika kau lihat aku tergeletak di sini

Tak ada yang mampu merobek keputusan
Dan tak ada yang dapat mengganti keputusasaan.


Jatinangor, 28 Juni 2010

Lelaki Berbaju Kuning

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.37
Reaksi: 
0 komentar
kepada lelaki berbaju kuning,

    Melihat matamu yang begitu indah, begitu tercermin surga. Sedang kepala yang engkau tengadahkan, menyiratkan satu makna baru atas kesombonganmu -ialah engkau yang menarinari di atas tanah, meliukliuk kepada derita. Aku akan terus mengeksplor tubuhmu, bukan lagi jiwa kebinatanganmu. Terus sehingga dapat kujahit boneka berwajah cantik dan mempunyai lesung, yang kemudian bisa kau cium dan bisa kau naiki memainkan tariantarian surga, kembali.

12 Juni 2010

Pergantian Hari

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.31
Reaksi: 
0 komentar
: Adi Ramdhani

Mengapa hujan begitu hebat, aku lihat dari jendelaku. Lalu aku bercermin di wajahmu, kulihat lagi hujan. Pantas saja kau tak melihat kerlingku. Tuan, aku menghapus tirai penghalang untuk kau melihat kerlingku. Mendengarkan kesah yang sedang kau runtut. Lalu membuka tanganmu, kuberikan kerling milikku, hanya itu yang aku punya. Aku ingin melihat matamu bercahaya, Tuan. Simpan baik-baik. Aku cinta kau seperti kau mencintaiku dulu. Ya aku memang bodoh. Sudah lupakan sejenak tentang itu. Aku hening. Bukan karena aku tak senang, aku sedang menyelam dan menitipkan doa untukmu pada rintik. Tapi, aku lupa mereka takkan menyampaikan doaku pada langit, mereka turun bukan naik. Tak apa, mereka menjatuhkan doa pada bumi tempat kau pijak, dan kau bisa terlindung oleh apa yang aku titipkan. Mari kita berjalan kembali, setelah melewati tengah malam dengan renungan.

Holis, 17 Mei 2010

Puisi

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.25
Reaksi: 
0 komentar
Puisi,
Begitu tersembunyi
Aku setia dengan berjuta rahasia

Puisi,
Siapa? Siapa?
Sampai kapan ketidakadilan menjadi milikku?

Puisi,
Kau yang membangunkanku
Dalam gelap sore hari
Malah kau pakai topeng jingga

Puisi,
Aku ingin melihatmu
Pada dimensi lalu
Walau dengan kebodohanku

Yang terpenting kutahu

-(saat itu) kau menautkan aku

Banjaran, 25 April 2010

Mengapa Sesa(a)t?

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.17
Reaksi: 
0 komentar
aku lihat kau di pikiranku
sesa(a)t
sebelum semua pergi

aku rasa jantung terhenti
terkulai
mati?

Sekre Himasa Jatinangor, 11 April 2010

Lelaki Penjaja Senyum

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.15
Reaksi: 
0 komentar
akh! apa yang tersirat ternyata
lebih dahsyat dari hatiku,
yang tersayat

21 Januari 2010

Pesisir

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.14
Reaksi: 
0 komentar
hei
Rizal!
lekas jemput aku di pesisir
bawa perempuan itu
kembalikan pada pesisir
iring aku menggantikan dia
2010

Ayah...

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.13
Reaksi: 
0 komentar
Aku masih ingat,
Ayah sesak napas
Kalut mencegat
Sampai sembuh lalu tidur pulas

Sampai sekarang aku ingin minggat
Dari malam yang, masih membuat lemas
Melihat Ia tertidur padat. selalu
Membuat trauma akan akhir napas

Bandung, 22 Januari 2010

Pahami

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.13
Reaksi: 
0 komentar
: Adi Ramdhani

Aku tahu engkau sedang rapuh, hati
Tapi lihat air terjun
Berapa kilo air melimpah
Apa akan rapuh karena air?

Pahami.


Kamarku, 28 Januari 2010

Bukan Main

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.11
Reaksi: 
0 komentar
bukan main lelah menunggu

sendiri, aku mengelilingi lantai dasar gedung berumur
kulewati 1 ubin
ada puntung di situ

hentak per hentak

"puisiku, hati"
"aku tak mau puisi penuh carut"
"cape aku, hati"
"aku tetap saja begini"

terus saja ramai hatiku
seperti banyak orang lalu lalang

kembali, aku melewati lantai berpuntung
"aku akan tersenyum setelah melewati lantai berpuntung yang kedua kali"
terus saja hatiku bergumam, cemas

ternyata masih samar
"jangan kosong,hati jangan"

beriringan, sekarang
aku dan kamu melewati lantai berpuntung lagi
"ya, kali ini semoga sudah jelas"

malah diam,
kembali berkeliling
melewati lantai berpuntung
kemudian diam lagi
berkeliling
melewati lantai berpuntung
kemudian diam lagi
berkeliling
melewati lantai berpuntung
kemudian diam lagi

akh!
bunuh saja aku

Bandung, Februari

Mungkin

Diposting oleh Tirena Oktaviani di 06.10
Reaksi: 
0 komentar
seorang wanita indah
bertanya padamu
dalam hati
dengan dongkol
tanpa mengerti
rasa apa di hati

seorang wanita indah
menaiki gubuk di hati
tanpa tau
ditambah sadar

seorang wanita indah
berupa berlian
malaikat
putri di kerajaan gubuk hatimu

seorang wanita indah
itu dia,
kasihmu.

2010

Setelah Mati

tolong,
biarkan aku menangis, menjerit

tolong,
biarkan aku menarik, menghela

tapi tolong,
jangan biarkan aku bernafas, kembali setelah mati.


Holis, 23 Agustus 2010

Catatan Perjalanan

06.51 by Tirena Oktaviani 0 komentar

"Tidur cantik". Tengah malam kuterima pesan darimu. Sesuai perkiraan, kau selalu tahu aku masih belum terlelap. Ini yang aku suka dari malam. Segelas coklat dingin, tugas, layar komputer dan pesan teks darimu. Lengkap sudah. Aku merasa sedang mencicipi bagian dari surga. Mungkin saat itu jiwaku sedang menari mengikuti irama musik klasik. Satu jarum pendek jam di dinding ruang keluarga hampir menunjuk angka satu, sedang jarum yang lain berada di angka sebelas. Pukul satu kurang lima menit, nampaknya kau sudah tertidur. Ponselpun sudah tak lagi berkicau. Ya, kau pasti tengah terlelap. Dan aku masih ingin terjaga, membiarkan bintang, bulan dan semesta meniupkan mimpi dan kehidupan yang indah dalam tidurmu. Terus saja kukerjakan tugas dengan rasa khawatir bahwa aku akan melewatkan waktu subuh kemudian terlambat ke kampus. Kalau sudah begitu, untuk apa aku semalaman mengerjakan tugas? Kuputuskan mengirimi satu pesan teks padamu, meminta untuk membangunkanku pagi-pagi. Tiga per-empat malam tugas selesai dan aku dapat tertidur, akhirnya.


Pagi-pagi telepon darimu berdering. Tunggu sebentar, kuangkat panggilan dengan mata masih terpejam, setelah itu kembali terlelap. Sepertinya gerimis baru saja reda. Redup matahari membuat mata tak kunjung membuka. Ibu berteriak, membangunkanku. Pukul berapa ini? Pelan-pelan kupaksakan mata melihat jam berbentuk tokoh kartun kesayanganku di sisi ranjang. Ah sial, pukul delapan. Seharusnya pukul sembilan aku sudah berada di kampus, duduk pait mempersiapkan sebuah presentasi di hadapan teman-teman. Itu artinya aku akan terlambat sampai kampus dan usaha mengerjakan tugas malam tadi terancam tidak mempunyai arti. Bergegaslah aku mandi, aku berbenah. Terburu-buru pergi ke luar rumah. Benar saja gerimis baru reda, embun-embun berserakan di pekarangan. Dingin pagi semakin membuatku kehilangan rasa optimis akan sampai kampus pada waktu yang tepat. Dengan mengucap basmallah aku berangkat kemudian tiba lima belas menit lewat dari pukul sembilan. Untung saja dosen belum datang. Seperti biasa kata basmallah selalu diakhiri dengan hamdallah.


Kira-kira pukul sebelas kelas presentasi selesai. Ah, tak sabar aku bertemu denganmu. Rindunya... Ya, hari ini memang aku ingin ditemani olehmu walau sebentar hanya setetes waktu, tak apa. Melihatmu dari kejauhan saja -seperti biasa, sebenarnya rasa rinduku bisa hilang. Tapi aku ingin menghilangkan rasa rindu kemudian memunculkannya kembali, jadi kuputuskan untuk bertemu, bersamamu. Keluar kelas, lagi-lagi kukirim sebuah teks dalam pesan. Aku sudah selesai dengan urusanku dan siap bertemu. Kupastikan kau mencerna, memahami, kemudian mengembalikan katakata kepadaku. Ternyata kau belum selesai dengan urusanmu. Aku menunggumu di ruang waktu puisi, tak pernah tahu batas dan tak mengenal waktu. Angin memang sangat kencang saat itu, tapi tidak juga dapat menerbangkan segala penantian yang ada di otak. Angin begitu lembut membelai tubuh sambil menemani.


Hampir pukul satu siang kulihat dari petunjuk waktu ponselku. Kau datang berwajah malu-malu, senyum berkali-kali. Terlihat ada kebahagiaan disana, hatimu. Tapi kubiarkan saja duduk terlebih dahulu, terdiam. Mungkin masih ingin meneruskan menikmati letupan kebahagiaan yang belum meledak. Tak lama bibir yang anggur itu berkisah tentang cerita bahagia, sebuah awal dari salah satu mimpi utama. Aku memang bukan perenang ulung, tapi nampaknya kali ini aku berhasil menyelam di bahagiamu. Kau dan aku berjalan beriringan menuju kantin sambil menyisipkan kenangan sepanjang jalan. Di kantin, kembali aku mendengarkan segala cerita bahagia, rintih dan gurauan. Dan aku mengirimkan napas untukmu. Kau akan tetap bernapas, terjaga dengan hasrat tanpa waktu yang membeku.


Pukul dua lebih tiga puluh menit. Ibu mengirim pesan, aku harus cepat pulang. Istri dari adik Ibuku meminta aku untuk menemani sisa hari itu. Ah! Waktu kita telah habis. Sebenarnya aku masih ingin berada disana, bersamamu, di dekatmu, menemani, tak mau pergi seperti malam yang datang kemudian pergi setiap hari. Aku pamit, memberi kucupan di tanganmu kemudian berjalan, masuk mobil, dan berlalu hingga hilang gema di telingamu. Kususuri lorong jalan yang terasa jauh. Seperti langkahmu, menjauh. Ternyata benar, rinduku hilang tadi, tapi kau langsung menanam kembali rindu di akar hatiku. Melebur dengan darah tubuh, mengalir ke setiap organ. Aku sadar, begitu kupulang, ada yang hilang.



Kamar, 2010

Sadar

06.51 by Tirena Oktaviani 0 komentar
dari sini aku melihat
ternyata
hujan
semakin
lebat


Holis, 2010

Aku Hari Ini

06.50 by Tirena Oktaviani 0 komentar
bisakah kau katakan padanya
bahwa
aku takkan pernah kau ambil

buat ia membuang semua rasa kalut
dan ketakutan pada kehilangan

katakan pula padanya
jika
kau memang begitu ingin aku menjadi teman

katakan

jika kau tak bisa mengatakannya
katakan saja yang sejujurnya
tentang kau dan aku
tentang yang kau perjuangkan sebentar ini.


2010

Akhir Kesabaran Sang Suami

06.49 by Tirena Oktaviani 0 komentar
:masih tentang malam, tentang kelam, tentang yang terbenam


"Tak apa, kau tak ada di siang ini,"

Suamiku tersenyum. Membukakan pintu kemudian
merangkulku. Aku segera meletakkan tas, pergi
ke kamar. Beriringan.

Aku mulai melepaskan pakaianku, pakaian dalamku.
Suamiku tersenyum. Dipeluknya aku dengan hangat,
seperti akar merekatkan diri kepada tanah.

"Tak apa, kau tak ada di siang ini,"

Suamiku masih menumpuk kata di bawah bantal,
sementara aku membentuk awan di kasur, berantakan.
Suamiku tersenyum. Memakaikan pakaianku kembali, kemudian pergi.


27 Juli 2010

Sesuai Rencana

06.47 by Tirena Oktaviani 0 komentar
-mengenang percakapan banyak mata

Aku sudah memakai pakaian pengantin, Pah. Baru ada satu set kursi tamu yang katanya untuk alas ketika aku lelah saat pernikahan nanti. Kita harus melakukan sesuatu. Bertanya dimana banyak set untuk makan, duduk, juga seperangkat alat musik. Lalu kemana 500 tamu yang kau undang? Seperti biasa, terus saja kau lantunkan ayat omong kosong. Dan terus saja kau bisikkan ketenangan dari bathinmu, berulang-ulang. Sudahlah. Biar aku bergerak sendiri. Dari kanan kemudian kiri kemudian kembali kanan, terus saja aku menengok bolak-balik, gelisah, lenggak-lenggok. Kupastikan semua rapih, mahar telah tersedia, duduk manis di kamar pengantin. Seperangkat alat untuk sembahyang -aku lupa apa namanya, mukena? atau salibkah? atau mungkin dupa? juga tentu sudah berjejer rapih dibelakang mahar. Aku tahu aku pasti akan menangis hari ini, ketika ijab dan qabul menjadi tontonan. Ternyata capek ya menjadi pengantin, padahal baru calon. Duduklah aku kemudian. Menyandarkan kepala ke tepi kursi. Kulihat sekitar, mengapa mereka melihatku seperti itu? Aneh. Aih, aku baru ingat, ternyata aku hanya pengantin tunggal. Akhirnya kunikmati hari ini dengan air mata, sesuai rencana.



Bandung 2010

Kutemukan Tanahmu di Malam Hari

06.45 by Tirena Oktaviani 0 komentar
:lagi dan lagi untuk Angga sebagai bingkisan hujan kepada tanah

di malam hari,
aku tak melihat yang lain
kecuali jenis tanahmu

bulan mulai memantulkan cahaya
yang tak pernah berhenti
coba membiarkanku diam di waktu malamnya

rumahrumah menjadi saksi
saat pagi berganti siang
kemudian menjadi sore

sebelum kau berdiri di tempat persembunyianku
kepada siapa aku bisa mengajak untuk melihatmu
sedang para penjaga sibuk duduk diam di pinggir malam

aku begitu tahu kau pasti ada
menulis namaku
membantu kakiku
melangkah
dan menyiapkan satu nafas lagi

aku tahu
malam itu
aku tak melihat yang lain
kecuali jenis tanahmu

dan aku tahu
aku tak melihat yang lain
kecuali wajah bulanmu
yang terkadang tertutup embun
di malam hari


Juli 2010

Menjelang Sore Aku Mengintipmu

06.44 by Tirena Oktaviani 0 komentar

:Fathur Rahman


Aku telah beranjak setelah hujan berhenti

setelah tugas konyol yang belum selesai kuberikan

setelah tersampaikan sebuah pelajaran untuk sang ketua

dan tentu setelah kau datang siang hari

Kau datang di siang hari

membawa buku puisi yang kau pinjam

setelah selesai 3 hal penting : duduk

melihat

berdoa

Kau datang di siang hari

tepat saat penghuni perut menggerogot dinding lambung

dan (lagi-lagi) tepat waktu sedang tak berkawan

Di kantin itu

kau dan aku duduk berhadap-hadapan

mulai menceritakan segala jalan yang dilewati

(saat itu) kupikir kau teman yang dititipi satu napas

Kau lihat jalan kesedihanku

seperti pelangi begitu indah. Dan aku

berlari di atasnya. Coba saja kau mulai telisik

caraku melangkahkan kaki. Gestur saat mulai berlari, lalu

suara bergema di langit. Bernyanyilah aku ketika

masa lalu memainkan tarian surga, dan aku

mulai menikmati manisnya dosa-dosa

Kau terdiam, diam yang tak kosong

sampai terunut jalan indahmu

bersama puteri berkerudung putih

Kau datang di siang hari

menjelang sore aku mengintipmu

Bandung, 2010

Dan Aku Memintal Tanya

06.39 by Tirena Oktaviani 0 komentar
Gerhana bulan kehilangan penonton. Gelap malam pun merayakan kemenangannya.
Disimpannya langit yang semakin menghitam. Dan awan mulai berarak menutupi
matahari. Lalu kemana perginya cahaya? Dibiarkannya gelap bersorak-sorai.

Aku mulai membuka pintu dengan luka, membiarkan masuk ia yang sejak pagi berdiri.
Masa lalu, Setiabudi, dan air mata menimbun di tubuhku. Mereka melumat tubuh,
menari-nari sendiri. Seorang lelaki masuk. "Beri aku sebuah kepercayaan,
maka takkan lagi ada permainan konyol seperti kemarin". Percakapan
menjadi bara di atas meja. Kukunyah api. Ia keluarkan air.

Dititipkan hati pada sebuah benda. "Ini bukan apa-apa, semoga
kau mulai dapat menyambung cerita, merangkainya di lubang hati, kemudian
kau tanam menjadi bagian tubuhmu". Aku mulai memintal takut dan resah. Memasukkan
ke lubang otak. Kututup pintu. Dan akhirnya kau lumuri tempat tidurku dengan kata-katamu.

-Buat Angga Nurfauza Rachviana


Bandung, 4 Juli 2010

Pulanglah

06.38 by Tirena Oktaviani 0 komentar
:untuk kawan perjalanan yang lagilagi sesaat

Pulanglah kekasih.
Kataku ketika kau lihat aku mulai merah bernanah
Dan takut pada hal yang orang sebut mati

Sendu tak mampu merobek keputusan
Pulanglah kekasih.
Bahkan jika kau lihat aku tergeletak di sini

Tak ada yang mampu merobek keputusan
Dan tak ada yang dapat mengganti keputusasaan.


Jatinangor, 28 Juni 2010

Lelaki Berbaju Kuning

06.37 by Tirena Oktaviani 0 komentar
kepada lelaki berbaju kuning,

    Melihat matamu yang begitu indah, begitu tercermin surga. Sedang kepala yang engkau tengadahkan, menyiratkan satu makna baru atas kesombonganmu -ialah engkau yang menarinari di atas tanah, meliukliuk kepada derita. Aku akan terus mengeksplor tubuhmu, bukan lagi jiwa kebinatanganmu. Terus sehingga dapat kujahit boneka berwajah cantik dan mempunyai lesung, yang kemudian bisa kau cium dan bisa kau naiki memainkan tariantarian surga, kembali.

12 Juni 2010

Pergantian Hari

06.31 by Tirena Oktaviani 0 komentar
: Adi Ramdhani

Mengapa hujan begitu hebat, aku lihat dari jendelaku. Lalu aku bercermin di wajahmu, kulihat lagi hujan. Pantas saja kau tak melihat kerlingku. Tuan, aku menghapus tirai penghalang untuk kau melihat kerlingku. Mendengarkan kesah yang sedang kau runtut. Lalu membuka tanganmu, kuberikan kerling milikku, hanya itu yang aku punya. Aku ingin melihat matamu bercahaya, Tuan. Simpan baik-baik. Aku cinta kau seperti kau mencintaiku dulu. Ya aku memang bodoh. Sudah lupakan sejenak tentang itu. Aku hening. Bukan karena aku tak senang, aku sedang menyelam dan menitipkan doa untukmu pada rintik. Tapi, aku lupa mereka takkan menyampaikan doaku pada langit, mereka turun bukan naik. Tak apa, mereka menjatuhkan doa pada bumi tempat kau pijak, dan kau bisa terlindung oleh apa yang aku titipkan. Mari kita berjalan kembali, setelah melewati tengah malam dengan renungan.

Holis, 17 Mei 2010

Puisi

06.25 by Tirena Oktaviani 0 komentar
Puisi,
Begitu tersembunyi
Aku setia dengan berjuta rahasia

Puisi,
Siapa? Siapa?
Sampai kapan ketidakadilan menjadi milikku?

Puisi,
Kau yang membangunkanku
Dalam gelap sore hari
Malah kau pakai topeng jingga

Puisi,
Aku ingin melihatmu
Pada dimensi lalu
Walau dengan kebodohanku

Yang terpenting kutahu

-(saat itu) kau menautkan aku

Banjaran, 25 April 2010

Mengapa Sesa(a)t?

06.17 by Tirena Oktaviani 0 komentar
aku lihat kau di pikiranku
sesa(a)t
sebelum semua pergi

aku rasa jantung terhenti
terkulai
mati?

Sekre Himasa Jatinangor, 11 April 2010

Lelaki Penjaja Senyum

06.15 by Tirena Oktaviani 0 komentar
akh! apa yang tersirat ternyata
lebih dahsyat dari hatiku,
yang tersayat

21 Januari 2010

Pesisir

06.14 by Tirena Oktaviani 0 komentar
hei
Rizal!
lekas jemput aku di pesisir
bawa perempuan itu
kembalikan pada pesisir
iring aku menggantikan dia
2010

Ayah...

06.13 by Tirena Oktaviani 0 komentar
Aku masih ingat,
Ayah sesak napas
Kalut mencegat
Sampai sembuh lalu tidur pulas

Sampai sekarang aku ingin minggat
Dari malam yang, masih membuat lemas
Melihat Ia tertidur padat. selalu
Membuat trauma akan akhir napas

Bandung, 22 Januari 2010

Pahami

06.13 by Tirena Oktaviani 0 komentar
: Adi Ramdhani

Aku tahu engkau sedang rapuh, hati
Tapi lihat air terjun
Berapa kilo air melimpah
Apa akan rapuh karena air?

Pahami.


Kamarku, 28 Januari 2010

Bukan Main

06.11 by Tirena Oktaviani 0 komentar
bukan main lelah menunggu

sendiri, aku mengelilingi lantai dasar gedung berumur
kulewati 1 ubin
ada puntung di situ

hentak per hentak

"puisiku, hati"
"aku tak mau puisi penuh carut"
"cape aku, hati"
"aku tetap saja begini"

terus saja ramai hatiku
seperti banyak orang lalu lalang

kembali, aku melewati lantai berpuntung
"aku akan tersenyum setelah melewati lantai berpuntung yang kedua kali"
terus saja hatiku bergumam, cemas

ternyata masih samar
"jangan kosong,hati jangan"

beriringan, sekarang
aku dan kamu melewati lantai berpuntung lagi
"ya, kali ini semoga sudah jelas"

malah diam,
kembali berkeliling
melewati lantai berpuntung
kemudian diam lagi
berkeliling
melewati lantai berpuntung
kemudian diam lagi
berkeliling
melewati lantai berpuntung
kemudian diam lagi

akh!
bunuh saja aku

Bandung, Februari

Mungkin

06.10 by Tirena Oktaviani 0 komentar
seorang wanita indah
bertanya padamu
dalam hati
dengan dongkol
tanpa mengerti
rasa apa di hati

seorang wanita indah
menaiki gubuk di hati
tanpa tau
ditambah sadar

seorang wanita indah
berupa berlian
malaikat
putri di kerajaan gubuk hatimu

seorang wanita indah
itu dia,
kasihmu.

2010

 

catatan kecil liku lika Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal